Flying Dutchman
Dari
Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Menurut cerita dongeng, The Flying Dutchman adalah kapal hantu yang tidak akan
pernah bisa berlabuh, tetapi harus mengarungi "tujuh lautan" selamanya.
Flying Dutchman selalu terlihat dari jauh, kadang-kadang disinari dengan cahaya
hantu.
Asal Usul
Menurut cerita rakyat,
The Flying Dutchman adalah kapal hantu yang tidak akan pernah bisa berlabuh,
tetapi harus mengarungi “tujuh lautan” selamanya. Flying Dutchman selalu
terlihat dari kejauhan, kadang-kadang disinari dengan sorot cahaya redup.
Banyak versi dari cerita ini. Menurut beberapa sumber, Legenda ini berasal dari Belanda,
sementara itu yang lain meng-claim bahwa itu berasal dari sandiwara Inggris The
Flying Dutchman (1826) oleh Edward Fitzball dan novel “The Phantom
Ship” (1837) oleh Frederick Marryat, kemudian di adaptasi ke cerita Belanda “Het Vliegend Schip”
(The Flying Ship) oleh pastor Belanda A.H.C. Römer. Versi
lainnya termasuk opera oleh Richard Wagner (1841) dan “The Flying
Dutchman on Tappan Sea” oleh Washington Irving (1855).
Beberapa sumber
terpercaya menyebutkan bahwa pada abad 17 seorang kapten Belanda bernama Bernard Fokke (versi lain menyebut
kapten “Ramhout Van Dam” atau “Van der Decken”)
mengarungi lautan dari Belanda ke pulau Jawa dengan kecepatan luar
biasa. Ia dicurigai meminta bantuan iblis untuk mencapai kecepatan tadi. Namun
ditengah pelayarannya menuju Tanjung Harapan tiba-tiba cuaca buruk,
sehingga kapal oleng. Lalu seorang awak kapal meminta supaya pelayaran
dihentikan . Tetapi sang kapten tidak mau, lalu dia berkata “aku bersumpah
tidak akan mundur dan akan terus menembus badai untuk mencapai kota tujuanku,
atau aku beserta semua awak kapalku akan terkutuk selamanya” Tiba -tiba badai
menghantam kapal itu sehingga mereka kalah melawan alam. Dan terkutuklah
selama-lamanya Sang Kapten bersama para anak kapalnya itu menjadi jasad hidup
dan berlayar di tujuh lautan untuk selama-lamanya. Konon, Kapal tersebut
dikutuk untuk melayari 7 samudera sampai akhir zaman. lalu cerita itu menyebar
sangat cepat ke seluruh dunia.
Sumber lain juga
menyebutkan munculnya penyakit berbahaya di kalangan awak kapal sehingga mereka
tidak diijinkan untuk berlabuh dipelabuhan manapun . Sejak itu, kapal dan
awaknya dihukum untuk selalu berlayar, tidak pernah berlabuh/menepi. Menurut
beberapa versi, ini terjadi pada tahun 1641, yang lain menebak tahun 1680 atau
1729. Terneuzen (Belanda) disebut sebagai rumah sang legenda Flying Dutchman,
Van der Decken, seorang kapten yang mengutuk Tuhan dan telah dihukum untuk
mengarungi lautan selamanya, telah diceritakan dalam novel karya Frederick
Marryat – The Phantom Ship dan Richard Wagner opera. Banyak saksi yang mengaku
telah melihat kapal hantu ini. Pada tahun 1939 kapal ini terlihat di
Mulkzenberg. Pada tahun 1941 seklompok orang di pantai Glencairn menyaksikan
kapal berlayar yang tiba – tiba lenyap ketika akan menubruk batu karang.
Penampakan The Flying Dutchman kembali terlihat oleh awak kapal laut militer
M.H.S Jubilee di dekat Cape Town di bulan agustus 1942.
Bahkan ada suatu catatan kisah tentang pelayaran Christoper
Columbus, waktu itu awak kapal Columbus
melihat kapal terkatung katung dengan layar mengembang. setelah itu awak yang
pertama melihat langsung tewas seketika.
Mitos ahir-ahir ini juga
mengisahkan apabila suatu kapal modern melihat kapal hantu ini dan awak kapal
modern memberi signal, maka kapal modern itu akan tenggelam / celaka. Bagi
seorang pelaut, pertemuan yang tak diduga dengan kapal hantu The Flying
Dutchman akan mendatangkan bahaya bagi mereka dan konon, ada suatu cara untuk
mengelak dari kemungkinan berpapasan dengan kapal hantu tersebut, yakni dengan
memasangkan tapal kuda di tiang layar kapal mereka sebagai perlindungan. Selama
berabad – abad, legenda The Flying Dutchman menjadi sumber inspirasi para
sastrawan dan novelis. Sejak tahun 1826 Edward Fitzball telah menulis novel The
Pantom Ship (1837) yang diangkat dari pengalaman bertemu dengan kapal seram
ini. Banyak pujangga terkenal seperti Washington
Irving dan Sir Walter Scott juga tertarik mengangkat
legenda ini.
Istilah Flying Dutchman
juga dipakai untuk julukan beberapa atlet sepakbola, terutama para pemain
ternama asal Belanda. Ironisnya, bintang veteran negeri Orange, Dennis Bergkamp
justru dikenal sebagai orang yang phobia atau takut untuk terbang, sehingga ia
dijuluki The Non-Flying Dutchman. Beberapa Laporan Penampakan The Flysing
Dutchman yang sempat didokumentasikan :
1823 : Kapten Oweb
, HMS Leven mengisahkan telah dua kali melihat sebuah kapal kosong terombang
ambing ditengah lautan dari kejauhan , namun dalam sekejap mata kapal tersebut
kemudian menghilang.
1835 : Dikisahkan
pada tahun itu , sebuah kapal berbendera Inggris yang terkepung oleh badai
ditengah samudera, didatangi oleh sebuah kapal asing yang disebut-sebut sebagai
Kapal Hantu The Flying Dutchman , kemudian secara tiba-tiba kapal asing
tersebut mendekat dan seakan-akan ingin menabrak kapal mereka , namun anehnya
sebelum keduanya saling berbenturan kapal asing tersebut kemudian lenyap
seketika.
Asal Mula Misteri Flying Ducthman
“I will round this Cape, even
if I have to keep sailing until doomsday! (Aku akan selalu mengarungi
semenanjung ini, walaupun harus tetap terus berlayar sampai hari kiamat
menjelang!)” sumpah Kapten Hendrik Van der Decken, membahana mengalahkan amukan
badai laut di perairan Cape of Good Hope (Tanjung Harapan), Afrika Selatan,
pada suatu hari yang kelam di tahun 1641. Jeritan sumpah serapah di tengah
keputusasaan itu membangkitkan sebuah legenda yang hingga kini masih menjadi
misteri besar dalam dunia pelayaran.
Bernard Fokke yang berjuluk Hendrik “van der Decken” adalah kapten kapal salah satu kapal dagang dari armada Dutch East India Company (Vereenigde Oost-indische Compagnie – VOC), di abad 17. Ia dikenal sebagai kapten kapal yang temperamental, pemabuk dan suka bertingkah aneh. Namun kemampuan dan keterampilannya dalam berlayar sangat mengagumkan. Keahlian inilah yang membuat armada VOC memercayakan sebuah kapal dagang di bawah komandonya.
Kapten Van der Decken memang menyisakan catatan khusus dalam armada VOC. Ia adalah sosok legendaris. Satu-satunya kapten kapal armada VOC yang mampu melakukan pelayaran tercepat dari Batavia (Jawa) ke Holland (Belanda).
Di antara sesama pelaut, ia digosipkan telah bersekutu dengan dunia gaib, sehingga kapalnya bisa berlayar sangat cepat dan mampu mendahului jadwal pelayaran yang sudah ditentukan. Tak ada kapal lain di masanya yang mampu menandingi kecepatan kapal yang dinakhodai Van der Decken.
Suatu hari di tahun 1641, kapal yang dinakhodai Van der Decken dalam pelayaran pulang ke Holland dari Batavia. Memasuki perairan Tanjung Harapan, Afrika Selatan, cuaca berubah. Langit mendadak hitam, angin bertiup kencang dari tenggara. Dengan cepat badai mengamuk di perairan ujung selatan Afrika, membawa angin tenggara dari Samudera Hindia.
Van der Decken berupaya menyisir laut menghindari terjangan angin dan gelombang laut yang mulai meninggi. Namun dalam satu upaya, angin keras yang berhembus tiba-tiba langsung merobek kain layar kapal. Sementara terjangan gelombang dan arus merusak kemudi kapal. Kapal segera terombang-ambing dipermainkan badai.
Kapten Van der Decken sudah mengupayakan semua keahliannya. Berjam-jam ia dan seluruh kru kapal berupaya menaklukkan badai, namun upayanya sia-sia. Alam sedang mengamuk!
Bagai sebuah busa yang terapung di samudera luas, kapal besar bertiang tiga itu dipermainkan gelombang dan angin. Terkatung-katung tanpa daya. Di tengah keputusasaannya, Van der Decken pun menyumpahi langit dan bumi.
Menurut legenda, ia kemudian mengamuk dan menantang integritas Yang Maha Kuasa. Ia mengucapkan sebuah sumpah yang membangkitkan kekuatan kegelapan. Saat mendengar suara badan kapal menghantam karang, Van der Decken semakin menggila. Ia mengucapkan sumpah terakhirnya: “I will round this Cape even if I have to keep sailing until doomsday!” Dan sebuah kutukan pun terwujud.
Sejak itu kapal yang dinakhodai Van der Decken tidak pernah kembali ke Belanda. Dalam catatan pelayaran, ia juga tak pernah berlabuh di dermaga manapun di seluruh dunia. Catatan dokumen VOC di pertengahan abad 17 menyebutkan bahwa kapal itu dilaporkan hilang dalam pelayaran dari Batavia menuju Holland saat mengangkut rempah-rempah. Diduga tenggelam akibat badai di perairan Starndfontein, wilayah pantai Cape Town, Afrika Selatan.
Namun, selama tiga ratus enam puluh enam tahun sejak peristiwa itu, ratusan laporan mengalir dari ribuan saksi mata yang menyebutkan melihat penampakan kapal itu berlayar di sekitar Tanjung Harapan… kapal hantu yang kemudian melegenda sebagai Flying Dutchman!
Kapal Hantu di Tanjung Harapan
Musim panas bulat Maret 1939 di False Bay, kawasan pantai Tanjung Harapan, Afrika Selatan. Sekitar 60 turis sedang berjemur di pantai Glencairn, sebuah pantai wisata berpasir putih di Cape Town. Udara panas siang itu memantulkan tabir uap air di atas lautan. Memberikan nuansa laut yang lain.muncullah kapal hantu yang berlayar di sekitar tanjung harapan,konon,yang melihat kapal hantu tersebut akan membawa sial
Bernard Fokke yang berjuluk Hendrik “van der Decken” adalah kapten kapal salah satu kapal dagang dari armada Dutch East India Company (Vereenigde Oost-indische Compagnie – VOC), di abad 17. Ia dikenal sebagai kapten kapal yang temperamental, pemabuk dan suka bertingkah aneh. Namun kemampuan dan keterampilannya dalam berlayar sangat mengagumkan. Keahlian inilah yang membuat armada VOC memercayakan sebuah kapal dagang di bawah komandonya.
Kapten Van der Decken memang menyisakan catatan khusus dalam armada VOC. Ia adalah sosok legendaris. Satu-satunya kapten kapal armada VOC yang mampu melakukan pelayaran tercepat dari Batavia (Jawa) ke Holland (Belanda).
Di antara sesama pelaut, ia digosipkan telah bersekutu dengan dunia gaib, sehingga kapalnya bisa berlayar sangat cepat dan mampu mendahului jadwal pelayaran yang sudah ditentukan. Tak ada kapal lain di masanya yang mampu menandingi kecepatan kapal yang dinakhodai Van der Decken.
Suatu hari di tahun 1641, kapal yang dinakhodai Van der Decken dalam pelayaran pulang ke Holland dari Batavia. Memasuki perairan Tanjung Harapan, Afrika Selatan, cuaca berubah. Langit mendadak hitam, angin bertiup kencang dari tenggara. Dengan cepat badai mengamuk di perairan ujung selatan Afrika, membawa angin tenggara dari Samudera Hindia.
Van der Decken berupaya menyisir laut menghindari terjangan angin dan gelombang laut yang mulai meninggi. Namun dalam satu upaya, angin keras yang berhembus tiba-tiba langsung merobek kain layar kapal. Sementara terjangan gelombang dan arus merusak kemudi kapal. Kapal segera terombang-ambing dipermainkan badai.
Kapten Van der Decken sudah mengupayakan semua keahliannya. Berjam-jam ia dan seluruh kru kapal berupaya menaklukkan badai, namun upayanya sia-sia. Alam sedang mengamuk!
Bagai sebuah busa yang terapung di samudera luas, kapal besar bertiang tiga itu dipermainkan gelombang dan angin. Terkatung-katung tanpa daya. Di tengah keputusasaannya, Van der Decken pun menyumpahi langit dan bumi.
Menurut legenda, ia kemudian mengamuk dan menantang integritas Yang Maha Kuasa. Ia mengucapkan sebuah sumpah yang membangkitkan kekuatan kegelapan. Saat mendengar suara badan kapal menghantam karang, Van der Decken semakin menggila. Ia mengucapkan sumpah terakhirnya: “I will round this Cape even if I have to keep sailing until doomsday!” Dan sebuah kutukan pun terwujud.
Sejak itu kapal yang dinakhodai Van der Decken tidak pernah kembali ke Belanda. Dalam catatan pelayaran, ia juga tak pernah berlabuh di dermaga manapun di seluruh dunia. Catatan dokumen VOC di pertengahan abad 17 menyebutkan bahwa kapal itu dilaporkan hilang dalam pelayaran dari Batavia menuju Holland saat mengangkut rempah-rempah. Diduga tenggelam akibat badai di perairan Starndfontein, wilayah pantai Cape Town, Afrika Selatan.
Namun, selama tiga ratus enam puluh enam tahun sejak peristiwa itu, ratusan laporan mengalir dari ribuan saksi mata yang menyebutkan melihat penampakan kapal itu berlayar di sekitar Tanjung Harapan… kapal hantu yang kemudian melegenda sebagai Flying Dutchman!
Kapal Hantu di Tanjung Harapan
Musim panas bulat Maret 1939 di False Bay, kawasan pantai Tanjung Harapan, Afrika Selatan. Sekitar 60 turis sedang berjemur di pantai Glencairn, sebuah pantai wisata berpasir putih di Cape Town. Udara panas siang itu memantulkan tabir uap air di atas lautan. Memberikan nuansa laut yang lain.muncullah kapal hantu yang berlayar di sekitar tanjung harapan,konon,yang melihat kapal hantu tersebut akan membawa sial
1881 : Tiga orang
anak kapal HMS Bacchante termasuk King George V telah melihat sebuat kapal tak
berawak yang berlayar menentang arus kapal mereka. Keesokan harinya , salah
seorang daripada mereka ditemui mati dalam keadaan yang mengerikan.
1879 : Anak kapal
SS Pretoria juga mengaku pernah melihat kapal hantu tersebut.
1939 : kapal ini
terlihat di Mulkzenberg , beberapa orang yang menyaksikannya terkejut kerana
kapal usang tersebut tiba-tiba menghilang
1941 : Beberapa
saksi mata dipantai Glencairn melaporkan sebuah kapal usang yang menabrak batu
karang dan terpecah belah , namun setelah dilakukan penyelidikan di TKP , tidak
ada tanda-tanda dari bangkai kapal tersebut.
1942 : Empat orang
saksi telah melihat sebuah kapal kosong memasuki perairan Table Bay kemudian
menghilang.Seorang pegawai telah mendokumentasikan penemuan tersebut di dalam
catatan hariannya.
1942 : Penampakan
The Flying Dutchman kembali terlihat oleh awak kapal laut militer M.H.S Jubilee
di dekat Cape Town di bulan agustus 1942
1959 : Awak kapal
Straat Magelhaen kembali melaporakan melihat sebuah kapal misterius yang
terombang-ambing ditengah lautan dalam keadaan kosong dengan
teleskopnya.(dipta)
Pemilihan judul film ini ternyata nggak sembarangan. Aslinya para bajak laut dari kepulauan Karibia memang sangat terkenal sama keberingasannya mereka. Mereka memang betulan ada dan menguasai perairan dunia barat dari abad ke-16 dan berakhir di tahun 1720, saat negara-negara barat membentuk koloni yang memburu mereka. Masa suram itu sempat disebut sebagai The Golden Age of Piracy.
Karibia jadi tempat yang “semarak” dengan para bajak laut, karena ada pelabuhan yang nggak memiliki peraturan seperti Port Royal, Jamaica, dan Tortuga. Tempat-tempat ini dijadikan tempat berkumpulnya para bajak laut untuk berlindung, atau sekedar berkumpul sebelum kembali ke lautan. Uniknya, meski para bajak laut identik dengan keganasan dan kebrutalannya, kebanyakan mereka berasal dari pelaut pemerintah yang membelot.
Davy Jones Locker
Sebenernya arti asli dari Davy Jones’s Locker adalah dasar lautan, tempat tergelap dan terdalam lautan, di mana apa pun yang jatuh ke situ tak akan selamat atau pernah ditemukan lagi. Istilah ini menjadi momok bagi para bajak laut dan sering digunakan sebagai ancaman bagi mereka.
Nama Davy Jones sendiri masih belum jelas asal-usulnya. Ada banyak mitos mengenai nama ini, mulai dari kapal hantu The Flying Dutchman, ada juga yang bilang Davy Jones adalah seorang bajak laut ganas di abad ke-17. Sementara teori lain mengatakan Davy Jones adalah seorang pemilik bar yang sering membuang pelaut-pelaut yang mabuk ke dalam lokernya, lalu dijatuhkan saat ada kapal lewat. Namun teori yang paling popular adalah, Davy Jones merupakan nama lain untuk Jonah, setan penguasa lautan.
The Flying Dutchman
Kapal hantu ini adalah mimpi buruk bagi semua pelaut, bukan hanya para bajak lautsaja. Konon, siapa pun yang melihat kapal ini sudah dipastikan akan mendapatkan takdir buruk, mulai dari badai, kapal karam, dan musibah laut lainnya. The Flying Dutchman mitosnya adalah sebuah kapal Belanda yang seluruh kru dan kaptennya dikutuk untuk berlayar selamanya di lautan, tanpa pernah bisa menyentuh daratan.
Penampakan kapal ini biasanya akan terlihat dari kejauhan, dengan tampak bersinar cahaya keemasan yang suram, dan seolah-olah melayang. Mitosnya lagi, kapal Belanda ini hilang di perairan Cape of Good Hope, daerah sekitar Afrika. Saat itu semua krunya menghilang, namun tiba-tiba kapal tersebut muncul lagi di perairan Eropa. Kabarnya kapal yang hilang itu adakah kapal pelaut Belanda yang sedang dalam perjalanan menuju tanah Jawa untuk menjajah.
Kraken
Kraken adalah monster bajak laut yang sangat ditakuti oleh para bajak laut. Wujudnya digambarkan sebagai seekor gurita raksasa yang bisa meneggelamkan kapal. Kabarnya makhluk ini pernah terlihat di perairan Eropa timur, di sekitar Norwegia dan Islandia. Kata Kraken sendiri berasal dari bahasa Skandinavia yang berarti “binatang yang nggak sehat”. Kraken diceritakan sebagai makhluk penghuni laut dalam yang kadang muncul ke permukaan.
Dalam mitosnya, Kraken ini digambarkan sangat besar sampai-sampai sering disangka sebuah pulau. Seorang peneliti Norwegia di abad ke-18, Eric Pontoppidan dalam bukunya Natural History of Norway, menjelaskan kalau Kraken berbahaya bukan hanya ukurannya, tapi juga pusaran yang dibuatnya yang bias membuat kapal karam. Sekarang ini, para ilmuwan memang telah menemukan gurita raksasa yang tinggal di dasar laut. Gurita raksasa inilah yang diperkirakan menginspirasi kisah Kraken, walaupun ukuran mereka “Cuma” 13-15 meter, beda dengan mitos yang digambarkan sampai belasan kilometer.
Harta Karun
Kita semua sudah tau dong, bahwa hobinya bajak laut adalah menimbun harta karun. Padahal, pada kenyataannya hal ini jarang terjadi,lho. Satu-satunya bajak laut yang dikenal karena menimbun harta karunnnya adalah William Kidd. Kidd aslinya tentara bayaran Inggris, yang lalu membelot. Dia sengaja menimbun setengah harta karunnya dengan harapan hartanya itu akan menyelamatkannya dari hukuman, yang sayangnya gak berhasil.
Para bajak laut sebenarnya adalah para penjahat beringasan yang tak berfikir tentang masa depan. Jadi, ide tentang menimbun harta karun bisa dibilang nggak masuk akal. Setelah membajak dan memperoleh harta rampasan, para bajak laut ini akan segera menuju pelabuhan terdekat, menghabiskan harta mereka untuk mabuk dan judi.
The Pirates's Code
Walaupun terdiri dari sekumpulan perompak dan perampok, tapi bukan berarti para bajak laut ini hidup tanpa aturan. Mungkin mereka memang melanggar peraturan peerintah, tapi di atas kapal, mereka punya aturan khusus yang harus dipenuhi, yang disebut “The Code”. Walaupun setiap kelompok bajak laut punya peraturan yang berbeda-beda, tapi dasarnya biasanya tetap sama.
Ingat nggak di film Pirates of Carribean saat Captain Jack Spearrow di tinggal oleh Captain Barbarossa di sebuah pulau terpencil? Hal itu disebut marooned. Jadi kalau ada salah satu bajak laut yang melanggar peraturan, misalnya ketahuan membelot, maka dia akan ditinggalkan di sebuah pantai terpencil, hanya dilengkapi dengan bubuk mesiu, sebotol air dan sebuah senapan yang hanya berisi satu peluru.
Buat para bajak laut, juga haram banget hukumannya membawa perempuan ke atas kapal, karena dipercaya membawa nasib buruk. Siapa yang melanggar bisa dihukum mati. Dan, satu peraturan yang paling penting, Kapten mereka adalah penguasa di atas kapal, dan semua perintahnya harus dipatuhi. Siapa yang melanggar bisa dikenakan hukuman cambuk.
|
Hari Tenggelamnya van der Decken
|
|
BANYAK
cerita yang beredar tentang tenggelamnya kapal yang dikomandoi Kapten Hendrik
van der Decken di Tanjung Harapan, 1641. Kapal dagang VOC yang bertolak dari
Batavia dengan membawa rempah-rempah menuju Holland. Dari sekian banyak
cerita yang ada, semua seolah sepakat kalau peristiwa naas itu
akibat ulah Kapten Hendrik van der Decken yang bersekutu dengan iblis.
Menentang kehendak langit dan bertingkah sombong akan dapat menaklukan badai
hebat yang menghadang di mukanya, hingga ia menerima kutukan dan menjadikan
kapalnya sebagai kapal hantu legendaris: Flying Dutchman.
Ah,
seandainya mereka tahu. Ya, seandainya mereka tahu kalau bukanlah itu
penyebab utama tenggelamnya kapal Var der Decken. Ooh, apa kisah yang telah
melegenda itu akan hilang bila aku menceritakannya? Entahlah, pastinya mereka
akan tetap beranggapan, kemampuan Kapten Hendrik van der Decken yang bisa
mengarungi lautan lebih cepat dari jadwal yang ada antara Batavia dan
Holloand akibat persekutuannya dengan makhluk gaib akan tetap ada di benak
mereka. Namun, itu tak akan mengurungkan niatku untuk menceritakan kisah
tenggelamnya kapal Van der Decken ini sesuai versi seorang awaknya yang
selamat.
Awak
yang selamat? Ahai, tentu kau tak akan menduga ini. Ya, aku dapat menerkanya.
Kau pasti terperanjat bila mengetahui kalau ada seorang awak kapal Van der
Decken yang selamat dari petaka itu. Tersebab, cerita telah tersiar ratusan
tahun lampau, kalau kapal itu hilang beserta seluruh isinya. Lalu, darimana
aku tahu ada awak yang selamat dan mendapat cerita tentang kejadian naas itu?
Nanti, nanti aku kisahkan bagian itu. Pertama-tama, marilah kita simak cerita
yang diuraikan awak itu kepadaku.
***
SAAT
bertolak dari Batavia, para awak kapal sudah mendapat firasat tak baik.
Bukan. Bukan karena mereka sudah menduga akan mengalami nasib naas.
Bukan itu. Perihal badai, mereka kerap kali menemukannya. Telah puluhan kali
mereka bertempur dengan badai, terlebih di Semenanjung Harapan itu. Firasat
buruk yang menghantui seluruh awak kapal adalah percekcokan antara kapten
mereka dengan istrinya, Mevrouw Bernard. Ya, nama asli Kapten Hendrik van der
Decken adalah Bernard Fokke.
Sebenarnya,
perang dingin antara sang kapten dan istrinya telah dimulai sejak kapal
hendak berlayar dari Holland menuju Batavia. Telah berkali-kali perempuan itu
memaksa Kapten Hendrik van der Decken untuk mengizinkannya mengikuti pelayaran
dari Holland menuju Batavia. Ah, tentu tak ada satu pun kapten kapal di muka
bumi ini yang hendak meluluskan permintaan seperti itu. Pasti sangat
merepotkan. Terlebih Kapten Van der Decken tahu, keinginan istrinya hanyalah
sebuah ambisi yang hendak dipuaskan. Perempuan itu hanya ingin menghabiskan
ratusan gulden untuk berburu barang mewah yang kerap dipamerkan
kawan-kawannya. Namun, entah apa yang terjadi, tak seorang awak pun yang
tahu, tiba-tiba saja pada pelayaran kali ini Kapten Van der Decken meluluskan
permintaan istrinya itu, walau semua diawali percekcokan seperti biasa. Dan
para awak kapal hanya terngangah melihat perempuan itu ada di kapal.
Inilah
petaka yang ditakutkan seluruh awak kapal: mereka takut, Mevrouw Bernard akan
mengendus rahasia terbesar kapten mereka. Ah, tak ada yang berani
membayangkan itu semua. Bagaimana rupa bila perempuan mandul itu tahu kalau
di Batavia, Kapten Hendrik van der Decken memiliki seorang istri dan putri?
Ah, betapa itu sangat mengerikan. Tentu Mevrouw Bernard akan mengamuk.
Lebih-lebih bila perempuan itu tahu jika madunya seorang perempuan pribumi!
Mungkin.
Mungkin memang sudah tercatat dalam garis semesta, ketakutan para awak kapal
itu terwujud. Tapi, tidak ada yang menduga kalau kenyataan yang ada jauh
lebih mengerikan dari yang mereka bayangkan.
Beberapa
hari sebelum kapal mereka bertolak dari Batavia menuju Holland, petaka itu
datang. Perempuan pribumi yang menjadi istri kedua Kapten Hendrik van der
Decken meninggal dunia. Saat itu memang tengah terjadi wabah malaria di
Batavia. Telah puluhan orang yang meninggal dunia, salah satunya istri kedua
Kapten Hendrik van der Decken. Dan masalah dimulai, tak ada yang mengurus
putri sang kapten. Gadis belia yang baru menginjak usia empat belas tahun itu
tak memiliki sesiapa di Batavia. Ah, sebuah pilihan yang berat. Akan lain
soal bila Mevrouw Bernard tak ikut pelayaran ini. Tentu Kapten Hendrik van
der Decken akan mudah menyusupkan putrinya itu dan menyerahkan pada ibunya di
Holland. Andai, andai saja kondisinya seperti itu, tentu cerita ini akan
berbeda.
Sialnya,
Mevrouw Bernard mengendus semuanya. Tentulah dapat ditebak apa yang terjadi
selanjutnya. Perang itu meletus seketika. Mevrouw Bernard seperti singa
terluka, ia mengamuk dan mengeluarkan sumpah serapah. Kapten Hendrik van der
Decken berusaha tak terlalu menggubris. Itu bisa dipahami dari sikapnya yang
menenggak alkohol lebih banyak. Sementara itu, Mevrouw Bernard mengancam akan
mengakhiri ikatan mereka sesampai di Holland nanti.
***
TAK ada
yang menduga. Sungguh, tak ada yang menduga kalau Mevrouw Bernard begitu
terluka dengan pengkhianatan yang dilakukan Kapten Hendrik van der Decken,
hingga perempuan itu menyusun siasat yang demikian keji.
Kapal
Van der Decken berlayar seperti biasa, sesuai jadwal yang telah ditetapkan
syahbandar di Pelabuhan Batavia. Pada mulanya, tak ada yang terjadi. Perang
dingin itu seolah redam. Para awak beranggapan telah terjadi gencatan
senjata. Hal itu membuat para awak menghela napas lega. Hingga petaka itu
terkuak.
Entah,
iblis mana yang menyusup di hati Mevrouw Bernard hingga pikiran keji itu
terlintas di benaknya. Tak ada yang menduga; para awak, apalagi Kapten
Hendrik van der Decken. Benar-benar suatu siasat keji yang membuat orang akan
menganggap ini adalah mimpi buruk yang teramat nyata.
Siasat
keji apa?
Ah, aku
tak kuasa mengisahkan bagian ini. Bagian yang sesungguhnya menjadi awal
petaka itu. Bagian yang menjadi pangkal tenggelamnya kapal Van der Decken.
Baiklah, akan aku ceritakan bagian itu dengan sangat pelan, tersebab bila
mengingat bagian ini, aku masih kerap didera ngeri.
Subuh
itu, ketika langit di atas laut masih temaram. Tiba-tiba saja putri Kapten
Hendrik van der Decken berjalan tertatih-tatih ke tempat sang kapten.
Wajahnya pucat, lutut gemetar, dan pakaian yang kusut masai. Tentulah sang
kapten mengeryitkan kening begitu melihat penampilan anak gadisnya. Apa yang
terjadi? Pasti itu yang terbersit di benaknya kala itu. Lalu, kisah keji itu
teurai dari bibir gadis belia itu.
Katanya,
semalam ia baru saja dijual ibu tirinya kepada beberapa saudagar Belanda yang
jadi penumpang di kapal ini. Dan para saudagar itu telah menggumuli tubuhnya
semalaman.
Ah,
dapat kau terka. Merah padam wajah sang kapten. Serta-merta ia berteriak
seperti kesetanan mencari istrinya. Seperti yang dapat ditebak, Kapten
Hendrik van der Decken mengamuk hebat. Mevrouw Bernard menjadi bulan-bulanan
dalam amukan itu. Puncaknya, ia menembak mati istrinya itu dan beberapa
saudagar Belanda yang telah menggumuli anaknya, lalu membuang mayat mereka ke
laut.
Pemandangan
mengerikan itu membuat kapal mencekam. Seluruh awak dan penumpang senyap. Tak
ada yang berani membuka suara. Kapten Hendrik van der Decken membaluri
dirinya dengan alkohol. Suasana kapal makin tegang ketika seorang awak
mengatakan kalau anak gadis sang kapten jatuh sakit. Gadis itu tak sadarkan
diri dan darah masih terus mengalir dari selangkangannya. Tentu saja, berita
itu kian membuat Kapten Hendrik van der Decken kacau. Ia menyeru seluruh
awaknya bekerja keras agar kapal dapat melaju lebih cepat, menggapai
Semenanjung Harapan dan mendarat di pelabuhan yang ada di sana untuk
menemukan dokter bagi putrinya.
Ketika
kapal Van der Decken mendekati perairan Tanjung Harapan, mendadak cuaca yang
tadi cerah berubah. Seolah ada tangan-tangan gaib yang berusaha menjegal
keinginan sang kapten. Langit mendadak gelap, angin kencang tiba-tiba saja
bergulung dari arah Tenggara. Sekejap saja badai hebat telah mengamuk. Kapal
Van der Decken terjebak dalam badai dahsyat.
Awak
kapal panik. Badai ini terlalu hebat untuk ditaklukan. Tapi, Kapten Hendrik
van der Decken tak perduli. Ia tetap tak memerintahkan para awak untuk
menggulung layar. Ia masih saja berusaha menyisir laut, menaklukan terjangan
angin dan ombak yang kian menggila. Dan tiba-tiba saja, terjangan angin yang
keras merobek kain layar. Kapal Van der Decken kian terombang-ambing di
tengah badai. Para awak dan penumpang menyeru kepada sang kapten untuk
menurunkan perintah menggulung layar dan membiarkan kapal terombang-ambing
sampai badai reda. Tapi, Kapten Hendrik van der Decken tak menggubrisnya. Di
pelupuk matanya, terbentang wajah putrinya yang tengah sekarat. Ah, gadis itu
adalah jantung hatinya. Seorang anak yang bertahun-tahun ia dambakan. Ia tak
ingin kalah dari badai.
"Aku
akan menaklukan badai dan melewati semenanjung ini walaupun hari kiamat yang
menghadang!"
Teriakan
Kapten Hendrik van der Decken itu tentu saja meremangkan bulu kuduk seluruh
awak kapal. Lepas ia melontarkan kemarahan itu, angin kian mengganas, ombak
menggila dan tiba-tiba saja ombak besar menghantam kapal itu. Semua awak
terpelanting di geladak, lambung Kapal Van der Decken robek! Penumpang
histeris, berebutan menuju sekoci. Sekali lagi, ombak besar datang
bergulung-gulung. Orang-orang panik hendak menyelamatkan diri. Kapten Hendrik
van der Decken tak peduli, seolah menyosong maut, ia menerjang ombak besar
itu. Dan Kapal Van der Decken lenyap ditelan ombak.
***
AKU
tahu, mungkin tak akan banyak yang percaya akan ceritaku ini. Dalam benak
mereka, tentu telah terpatri cerita tentang kapal Van der Decken yang
menjelma menjadi kapal hantu paling misterius itu. Ah, itu tak akan
mengurungkan niatku untuk menceritakan versi awak Van der Decken yang
selamat. Karena awak kapal yang selamat itu adalah leluhurku, satu-satunya
pribumi yang bekerja di kapal Van der Decken, yang bertugas membersihkan
seluruh geladak.
Saat
badai itu, ia terlempar dan terampung di atas papan serpihan Van der Decken.
Lalu, beberapa nelayan menemukannya di perairan Tanjung Harapan. Ia tak
pernah sanggup untuk menceritakan kejadian mengerikan itu, bertahun kemudian
ia bisa kembali ke Batavia dengan menumpang kapal dari Holland. Kisah ini
hanya ia ceritakan kepada keturunannya, menjadi kisah temurun yang diuraikan.
Dan hanya keturunannya pulalah yang tahu, kalau dewi laut yang disebut-sebut
orang dalam mitos Van der Decken bernama Calypso sesungguhnya hanyalah bohong
belaka, sebab Calypso adalah nama putri semata wayang Kapten Hendrik Van der
Decken.
|

Tidak ada komentar:
Posting Komentar